Siang ini panas banget, sempet ujan tapi malu2, trus panas lagi, langit emang suka lebay. Rencananya gw mo motret bareng Dimas. Mo muter-muter Jogja nyari objek seru, sebisanya semua objek di bulb, ntah apa lah jadinya foto-foto kita nanti. Eh betapa bangsatnya si Dimas, setelah tiga jam gw tungguin, lalu dia nongol, dan membawa kabar angin terburuk. “gw ga bawa kamera cuy…!!” (pernyataan sial macam apa ini?). Memang lah tuh anak suka lebay juga kayak sinetron.
Ngomongin soal sinetron (cihuy, topik paling seru neh…!!), gw lg gedeg banget sama smua channel tv, padahal selaen online dan motret, tv tuh selalu jadi pahlawan kesiangan gw kalo lagi suntuk. Hari ini tepatnya beberapa jam sebelum si kampret Dimas datang, gw pantengin tv sambil ngulik-ngulik channel yang seru. Dan ternyata gw dapetin beberapa program tv yang sangat seru. Umumnya stasiun tv menyebutnya “Reality Show”.Varian program reality show itu sendiri bermacam-macam, dari mulai jodoh-jodohan, kucing-kucingan, intip-intipan, kejar-kejaran, tersedak-sedak, terkagum-kagum, teriris-iris sampe tertidur-tidur.
Semua reality show yang disuguhkan bergenre sama dengan tag line super besar yaitu “KONFLIK”. Tak satupun acara serupa yang terlewatkan oleh konflik, mulai dari perkelahian, perselingkuhan, narkoba, kemiskinan, orang hilang, kabar cuaca, dan rutinitas sosial lainnya. Gw ga pengen ngebahas gimana alur cerita yang dibuat di dalam reality show tersebut, atau gimana tingkat keberhasilan reality show tersebut mendapat rating di mata masyarakat. Gw pengen ngebahas implikasi dari tayangan tersebut bagi kita semua.
……….anggep aja gw orang yang sangat awam dan konservatif. Habis nonton sebuah reality show, tanpa sengaja gw lebih ekspresif dan emosional. Dengan berbekal inspirasi dari suguhan konflik kejar tayang yang sangat fluktuatif, gw terlibat perkelahian di jalan karena melihat pasangan yang sedang berselingkuh yang tak lain adalah temen gw sendiri (ini fiktif). Kemudian gw juga semakin terbiasa mempublikasikan persoalan pribadi ke semua orang yang pertama kali mengajak gw bicara. Dan semakin banyak lagi hal yang gw alamin setelah menonton tayangan tersebut.
Gw ga mau denger klo tujuannya adalah bicara soal realita, ataupun masyarakat yang konsumtif akan suatu hiburan, ataupun karena hal yang bersifat finansial. Negara kita tuh uda terlalu lebay untuk jadi sorotan, jadi jangan pura-pura “nasionalis” untuk mempublikasikan ke-lebay-an ini di mata nasional, bahkan internasional.